makalah jadi filsafat pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat islam, Islamic Philosophy, pada hakikatnya
adalah filsafat yang bercorak islami. Islam menempati posisi sebagai sifat,
corak dan karakter dari filsafat. Filsafat islam bukan filsafat tentang islam,
bukan the philosophy of islam. Dengan demikian filsafat islam berada dengan
menyatakan keberpihakannya dan tidak netral. Keberpihakannya adalah kepada
keselamatan dan kedamaian.Dalam hal ini, kami akan membahas beberapa filosof
islam, yaitu Ibnu Maskawaih, Ibn
Thufail dan Ibn Rusyd.
Islam bukan sekedar nama agama, tetapi juga mengandung unsur
kebudayaan dan peradaban. Sejak lahirnya Islam telah merupakan kekuatan politik
yang telah berhasil mempersatukan pelbagai suku bangsa menjadi satu umat dalam
kekhilafahan Islam.
Ketertarikan untuk mempelajari Islam lebih mendalam lagi
menimbulkan banyak tokoh-tokoh Islam yang bermunculan. Baik itu mengkaji
masalah yang berkaitan dengan materi maupun immateri.
Berbicara tentang tokoh-tokoh filsuf Islam tentu menarik
untuk dipelajari dan diketahui. Berhubungan dengan Filsafat. Filsafat adalah
hasil kerja berpikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis,
radikal, dan universal. Sedangkan Filsafat Islam itu sendiri adalah hasil
pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari
ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.
Untuk mengetahui beberapa tokoh Islam yang banyak memberikan
kontribusi bagi perkembangan filsafat Islam, pemakalah mencoba menyajikan tokoh
Islam yaitu Ibn Thufail dan Ibn Rusyd yang untuk pembahasan lebih jauh dapat
kita ketahui dalam bab pembahasan.
Ibnu Maskawaih adalah seorang ahli
filsafat Islam termasuk yang pertama membicarakan akhlak. Tidak ada yang mengetahui
keturunannya dan pendidikannya yang pertama. Dia di kenal orang dalam dunia
filsafat sudah sebagai seorang yang pandai yang namanya menjadi buah bibirdari
para-para pengarang Islam. Di samping itu ia juga dikenal sebagai seorang
penya’ir yang masyhur, tabib, ahli sejarah dan ahli kimia.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka
kami akan membahas makalah tentang Ibnu Maskawaih, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
Filsafat Ibnu Maskawaih?
2. Bagaimana Pengaruh Pemikiran Ibnu Maskawaih
Terhadap Filosop lainnya?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Filsafat Ibnu Maskawaih
2. Untuk
mengetahui Pengaruh Pemikiran Ibnu Maskawaih Terhadap Filosop lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Ibnu
Maskawaih
Nama lengkap Ibnu Maskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu
Muhammad ibnu Ya’kub ibnu Maskawaih. Nama itu diambil dari nama kakeknya yang
semula beragama Masuji (Persia) kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali,
yang bagi kaum sy’iah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam
kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Dari gelar ini tidak
salah jika orang mengatakan bahwa Maskawaih tergolong penganut aliran syi’ah.
Gelar ini juga sering disebutkan yaitu Al-Khazim yang berarti bendaharawan.
Ia dilahirkan di kota Rayy (Taheran sekarang), Iran pada tahun 330 H/ 941 M dan
wafat di Asfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/ 16 februari 1030 M.
Ibnu Maskawaih pada dasarnya adalah ahli sejarah dan
moralis. Ia juga seorang penyair. Kesederhanaannya dalam melayani hawa nafsu,
ketegaran dalam menundukkan diri yang serakah dan kebijakan dalam mengatur
dorongan-dorongan yang tak rasional merupakan pokok-pokok petunjuk ini. Dia
sendiri berbicara tentang perubahan moral dalam bukunya Tahdzib al-Aqhlak yang
menunjukkan bahwa ia melaksanakan dengan baik apa yang telah ditulisnya tentang
etika.
Riwayat pendidikan Ibnu Maskawaih tidak diketahui dengan
jelas. Ibnu Maskawaih tidak menulis Autobiografinya, dan para penulis
riwayatnyapun tidak memberikan informasi yang jelas mengenai latar belakang
pendidikannya. Namun demikian, dapat diduga bahwa Maskawaih tidak berbeda dari
kebiasaan anak menuntut ilmu pada masanya. Ahmad Amin memberikan gambaran
pendidikan anak pada zaman Abbasiyah bahwa pada umumnya anak-anak bermula
dengan belajar membaca, menulis, mempelajari Al-qur’an, dasar-dasarbahasa Arab,
tata bahasa Arab (nahwu) dan arudh (ilmu membaca dan membuat syair). Mata
pelajaran-mata pelajaran dasar tersebut diberikan di surau, di kalangan
keluarga yang berada dimana guru didatangkan ke rumahnya untuk diberikan les
privat kepada anak-anaknya. Setelah ilmu-ilmu dasar itu diselesaikan, kemudian
anak-anak diberikan pelajaran ilmu fiqih, hadits, sejarah (khususnya sejarah
Arab, Parsi dan India) dan matematika. Selain itu diberikan pula macam-macam
ilmu praktis, seperti: musik, bermain catur dan furunsiah (semacam ilmu
kemiliteran.
Ibnu Maskawaih seorang yang tekun dalam melakukan
percobaan-percoabaan unuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Dan ia juga suka
mendalami Ilmu Mantiq dan Filasafat akhlaq sebagaimana Al-Ghazali lebih banayak
menunjukkan perhatiannya kepada filsafat alamiah. Tetapi Ibnu Maskawaih adalah
seoarang teoritis dalam hal-hal akhlaq artinya ia telah mengupas filsafat
akhlaqiyah secara analisa pengetahuan. Ini tidaklah berarti bahwa Ibnu
Maskawaih tidak berakhlaq, hanya saja persoalannya ditinjau dari segi
pengetahuan semata-mata.
Puncak prestasi kekuasaan Bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud
Al-Daulah yang berkuasa tahun 367-372 H, perhatiannya terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dan kesusastraan amat besar, sehingga pada masa ini Maskawaih
memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud Al-Daulah dan pada
masa ini jugalah Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan dan
pujangga. Tetapi keberhasilan politik dan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa
itu tidak dibarengi dengan ketinggian akhlak, bahkan dilanda kemerosotan akhlak
secara umum, baik dikalangan elite, menengah, dan bawah. Tampaknya hal inilah
yang memotivasi Maskawaih untuk memusatkan perhatiannya pada etika Islam.
Pada
zaman raja ‘Adhudiddaulah, Ibu Maskawaih juga mendapat kepercayaan besar dari
raja karena diangkat sebagai penjaga (khazin) perpustakaannya yang besar,
disamping sebagai penyimpan rahasianya dan utusannya kepihak-pihak yang
diperlukan.
B. Riwayat
Pendidikan Miskawaih
Dari segi latar belakang pendidikannya tidak
dijumpai data sejarah yang rinci. Namun dijumpai keterangan, bahwa ia
mempelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi, mempelajari
filasafat dari Ibn al-Akhmar, dan mempelajari kimia dari Abu Tayyib.[3] Karena leahliannya daam
berbagai ilmu, Iqbal mengelompokkannya sebagai seorang pemikir, moralis, dan
sejarawan Parsi paling terkenal.[4] Ibnu Maskawaih lebih terkenal dalam
bidang filsafat dibandingkan dengan ilmu yang lain, apalagi karya beliau yang
sangat terkenal adalah tentang pendidikan dan akhlak. Sehingga beliau lebih
banyak menghabiskan waktunya untuk memikir dan belajar secara otodidak tanpa
harus berguru kepada yang ahlinya.
Dalam bidang pekerjaan Ibn Miskawaih adalah bendaharawan,
sekretaris, pustakawan, dan pendidik anak para pemuka dinasti
Buwahi. Selain akrab dengan penguasa, ia juga banyak bergaul dengan
ilmuan seperti Abu Hayyan at-Tauhidi, Yahya Ibn ‘Adi dan Ibn
Sina. Selain itu Ibnu Miskawaih
juga dikenal sebagai sejarawan besar yang kemasyhurannya
melebihi para pendahulunya, at-Thabari (w. 310 H./ 923 M.) selanjutnya
juga ia dikenal sebagai dokter, [2]penyair
dan ahli bahasa. Keahlian Ibn Miskawaih dalam berbagai bidang ilmu tersebut
antara lain dibuktikan dengan karya tulisnya berupa buku dan artikel.
Ibnu Maskawaih seorang yang tekun dalam melakukan percobaan-percoabaan
unuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Selain itu beliau dipercayakan oleh penguasa
untuk mengajari dan mendidik anak-anak penjebat pemerintah, hal ini tentu
menunjukkan bahwa ibnu maskawaih dikenal keilmuannya oleh masyarakat luas
ketika itu.
Ibnu Miskawaih juga digelari Guru ketiga ( al-Mualimin
al-Tsalits ) setelah al-Farabi yang digelari guru kedua
( al-Mualimin al-Tsani) sedangkan yang dianggap guru pertama (al-Mualimin
al-Awwal ) adalah Aristoteles. Sebagai Bapak Etika Islam, beliau
telah merumuskan dasar-dasar etika dalam kitabnya Tahdzib al-Akhlak wa
Tathir al-A’raq (pendidikan budi dan pembersihan akhlak). Sementara itu
sumber filsafat etika Ibnu Miskawaih berasal dari filasafat Yunani, peradaban
Persia, ajaran Syariat Islam, dan pengalaman pribadi.[6] Ibnu Maskawaih adalah
seoarang teoritis dalam hal-hal akhlaq artinya ia telah mengupas filsafat
akhlaqiyah secara analisa pengetahuan. Ini tidaklah berarti bahwa Ibnu
Maskawaih tidak berakhlaq, hanya saja persoalannya ditinjau dari segi
pengetahuan semata-mata.
C. Hasil
karya Ibnu Miskawaih
Ibn Miskawaiah selain
dikenal sebagai pemikir (filosuf), ia juga sebagai penulis produktif. Dalam
buku The History of the Muslim Philosophy seperti yang dikutip oleh
Sirajuddin Zar disebutkan
beberapa tulisannya sebagai berikut:
a. Al Fauz al Akbar
b. Al Fauz al Asghar
c. Tajarib al Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar
yang ia tulis pada tahun 369 H/979 M)
d. Uns al Farid (Koleksi anekdot, syair, pribahasa, dan
kata-kata hikmah)
e. Tartib al Sa`adat (tentang akhlak
dan politik)
f. Al Mustaufa (tentang syair-syair pilihan)
g. Jawidan Khirad (koleksi ungkapan
bijak)
h. Al Jami`
i. Al Siyab
j. Kitab al Ashribah
k. Tahzib al Aklaq
l. Risalat fi al Lazzat wa al Alam
fi Jauhar al Nafs
m. Ajwibat wa As`ilat fi al Nafs wa al `Alaq
n. Thaharat al Nafs dan lain-lain.[7]
Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, bahwa
semua karya Ibn Miskawaih tidak luput dari kepentingan filsafat dan
akhlak. Sehubungan dengan itu Ibnu Miskawaih dikenal sebagai moralis
D.
Filsafat Ibnu Maskawaih
Maskawaih membedakan antara pengertian hikmah (kebijaksanaan
wisdom) dan falsafah (filsafat). Menurutnya, hikmah adalah keutamaan jiwa yang
cerdas (aqilah) yang mampu membeda-bedakan (mumayyiz). Hikmah adalah: bahwa
engkau mengetahui perkara-perkara ilahiah (ketuhanan) dan perkara-perkara
insaniah (kemanusiaan), dan hasil dari pengetahuan engkau mengetahui
kebenaran-kebenaran spiritual (ma’qulat) dapat membedakan mana yang wajib
dilakukan dan mana yang wajib ditinggalkan. Maskawaih hanya membagi filsafat menjadi
dua bagian, bagian teori dan bagian praktis. Bagian teori merupakan
kesempurnaan manusia yang mengisi potensinya untuk dapat mengetahui segala
sesuatu, hingga dengan kesempurnaan ilmunya itu pikirannya benar, keyakinannya
benar dan tidak ragu-ragu terhadap kebenaran. Sedangkan bagian praktis
merupakan kesempurnaan manusia mengisi potensinya untuk melakukan
perbuatan-perbuatan moral. Dan akhir dari kesempurnaan moral adalah sampai
dapat mengatur hubungan antar sesame manusia hingga tercipta kebahagiaan hidup
bersama.
1. Filsafat Ketuhanan
Tuhan menurut Ibnu Maskawaih adalah
zat yang tidak berjisim, Azali, dan Pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek. Ia
tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang
setara dengan-Nya. Ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung kepada
yang lain. Sementara yang lain membutuhkan-Nya. Kalau dilihat sekilas pemikiran
Ibnu maskawaih ini sama dengan pemikiran Al-kindi.
Tuhan dapat dikenal dengan propogasi
negative dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya ,prograsi positif .Alasannya
prograsi posotif akan menyamakan Tuhan dengan alam. Segala sesuatu di alam ini
ada gerakan.Gerakan tersebut merupakan sifat bagi alam yang menimbulkan
perubahan pada sesuatu dari bentuknya semula .ia bukti tentang adanya Tuhan
pencipta alam.pendapat ini berdasarkan pada pemikiran aristoteles bahwa segala
sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk
semula. Sabagai filosofis releguis sejati, Ibnu Miskawaih
mengatakan,alam semesta ini diciptakan Allah dari tiada menjadi ada,karena
penciptaan yang suadah ada bahan sebelumnya tidak ada artinya.disinilah letak
persamaan pemikirannya dengan Al-Kindi dan berbeda dengan Al-Farabi bahwa Allah
menciptakan alam dari sesuatu yuang sudah ada. Maskawaih berkesimpulan bahwa
karena tidak ada jalan rasional untuk memahami Tuhan, kita harus mengikuti
petunjuk-petunjuk agama dan pandangan-pandangan umum komunitas religius. Ia
sangat peduli pada penyelarasan pandangan filosofis dengan pandangan religius
mengenai sifat dasar dunia, sehingga tidak menemukan adanya masalah dalam
menyatukan pandangan bahwa Tuhan menciptakan dunia dari ketiadaan dengan
gagasan emanasi terputus neoplatisme.
Sebagaimana Al-Farabi,
Ibnu Maskawaih juga menganut paham emanasi, yakni Allah menciptakan alam secara
pancaran. Namun Emanasinya berbeda dengan Al-Farabi. Menurut entitas pertama
yang memancarkan dari Allah ialah akal aktif. Akal aktif ini tanpa perantara
apapun. Ia kadim, Sempurna dan tak berubah. Dari akal inilah timbul jiwa dengan
perantaraan jiwa pula timbullah planet. Pelimpahan dan pemancaran yang terus
menerus dari Allah dapat memelihara tatanan di dalam alam ini. Andaikan Allah
menahan Pancaran-nya, maka akan terhenti kemaujudan alam ini.
Untuk lebih
jelasnya dapat dikemukakan perbedaan Emanasi Antara Ibnu Miskawah dan Al-Farabi
sebagai berikut.
1. Bagi
Ibnu Miskawaih: Allah menjadiakan alam ini secara Emanasi dari tiada menjadi
ada. Sementara itu menurut Al-Farabi alam dijadikan Tuhan secara pancaran dari
bahan yang sudah ada menjadi ada.
2. Bagi
Ibnu Miskawaih: Ciptaan Allah yang pertama ialah akal aktif. Sementara itu,
bagi Al-Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah akal pertama dan akal aktif
adalah akal kesepuluh.
Dari uaraian diatas dapat ditegaskan bahwa dalam
masalah pokok Ibnu Miskawaih sejalan dengan pemikiran Guru Kedua, Al-Farabi
akan tetapi. Dalam penyelesaian masalah ini lebuh cendrung kepada Al-Kindi dan
Teolog Muslim. Sebagaimana Ikhwan Al-Shafa, Ibnu Miskawaih juga mengemukakan
teori Evolusi, menurutnya alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan dan
alam manusia merupakan rentetan yang sambung mernyambung. Antara setiap alam
tersebut terdapat jarak waktu yang sangat panjang. Transisi dari alam mineral
kealam tumbuh-tumbuhan terjadi melalui merjan dari alam tumbuh tumbuhan
kea lam hewan melalui pohon kurma dan dari alam hewan ke alam manusia melalui
kera.
Menurut
De Boer dalam bukunya Tarikh al-Falsafat fi Islamdisana ibnu maskawaih
menyatakan, Tuhan adalah zat yang jelas dan zat yang tidak jelas. Dikatakan zat
yang jelas bahwa ia adalah yang hak ( Benar ). Yang benar adalah terang.
Dikatakan tidak jelas karena kelemahan akal pikiran kita untuk menangkapnya,
disebabkan banyak dinding-dinding atau kendala keberadaan yang menutupi-Nya
Adapun
argumen lain yang ditambahkan Ibnu Maskawaih, yang penting adalah adanya gerak
atau perubahan yang terjadi pada alam. Memperhatikan bahwa segala macam benda
mempunyai sifat gerak atau berubah sesuai dengan watak pembawaan masing-masing
(sifat gerak itu berbeda-beda yang berbeda), maka adanya gerak yang
berbeda-beda itu membuktikan adanya yang menjadi sumber gerak, pengerak pertama
yang tidak bergerak yaitu tuhan. Argument gerak ini di ambil dari argumen
Aristoteles. Sebagai pengerak pertama yang tidak bergerak, juga menjadi sebab
pertama dari segala yang ada, adanya segala sesuatu diciptakan tuhan, dan
adanya tuhan adalah pada dirinya. Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu
menciptakan dari awal : segala sesuatu diciptakan tuhan dari tiada menjadi ada,
sebab tidak ada artinya jika menciptakan sesuatu dari wujud yang telah ada.
Seandainya tuhan berhenti mencipta, atau menahan pancaran keberadaan alam ini,
niscaya ala mini akan menjadi tiada sekita itu juga.begitu juga tentang
perubahan yang terjadi di alam menyebutkan bahwa setiap betuk itu berobah-robah
di gantikan dengan bentuk yang baru. Dalam pertukaran bentuk Ibnu Maskawaih
mengatakan bentuk yang lama tadi menjadi tiada. Dengan demikian terjadilah
penciptaan yang terus menerus dari satu generasi ke generasi yang lain dan
setiap ciptaan yang baru berasal dari yang tiada[3]
2. Filsafat Jiwa
Menurut Ibnu Maskawaih, jiwa adalah
jauhar rohani yang tidak hancur dengan sebab kematian jasad, ia adalah kesatuan
yang tidak terbagi-bagi. Ia akan hidup selalu, Ia tidak dapat diraba dengan
pancaindra karena ia bukan jisim dan bagian dari jisim. Jiwa dapat menangkap
keberadaan zatnya dan ia mengetahui ketahuan dan keaktifisannya.
Ibnu Maskawaih juga mengsinyalkan
bahwa jiwa yang tidak dapat dibagi-bagi itu tidak mempunyai unsur, sedangkan
unsur-unsur hanya terdapat pada materi. Namun demikian, jiwa dapat menyerap
materi yang komplek dan nonmateri yang sederhana.
Misalnya: jiwa dapat menerima
gambaran konsep putih dan hitam dalam waktu yang sama, sedangkan materi hanya
dapat menerima dalam satu waktu putih atau hitam saja. Jiwa dapat meneria
gambaran segala sesuatu, baik yang indrawi maupun spiritual.
Maskawih menonjolkan kelebihan jiwa
manusia atas binatan dengan adanya kekuatan berfikir yang menjadi sumber
pertimbangan tingkah laku, yang selalu mengarah kepada kebaikan. Menurut
maskawaih, jiwa manusia mempunyai iga kekuatan yang bertingkat-tingkat.dari
tingkat yang paling rendah disebutkan urutannya sebagai berikut:
1. An-nafs
al-bahimiyah(nafsu kebinatangan)yang buruk.
2. An-nafs
al-subu’iah(nafsu binatang buas) yang sedang.
3. An-nafs
an-nathiqah(jiwa yang cerdas)yang baik.
Dalam
membicarakan berbagai penyakit dalam jiwa, maskawaih meninggung masalah takut
mati yang banyak dialami orang pada umumnya.Takut mati yang merupakan penyakit
jiwa itu dapat terjadi karena adanya sebab-sebab berikut:
1. Tidak mengetahui hakikat kematian
2. Tidak mengetahui kesudahan jiwa.
3. Tidak mengetahui kekekalan jiwa
4. Mempunyai sangkaan bahwa kematian
itu merupakan sakit yang amat berat, melebihi pedihnya sakit yag mendahuliunya.
5. Adanya kebingungan karena tidak tahu
apa yang dialaminya setelah mati.
6. Karena adanya rasa berat untuk
bercerai dengan yang disenanginya yaitu keluarga, anak, harta benda dan
kenikmatan-kenikmatan duniawia lainnya.
Ibnu
Maskawaih mengatakan bahwa jiwalah yang akan menrima balasan kebahagiaan dan
kesengsaraan diakhirat. Karena menurutnya kelezatan jasmaniya bukanlah
kelezatan yang sebenarnya.
3. Filsafat Kenabian
(An-Nubuwwah)
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Maskawaih
juga menginterprestasikan kenabian secara ilmiah. Usaha nya ini dapat pula
memperkecil keadaan antara nabi dan filosof dan memperkuat hubungan dan
keharmonisan antara wahyu dan akal.
Menurut Ibnu Miskawaih, nabi adalah
seorang muslim yang memperoleh hakikat-hakikat atau kebenaran karena pengaruh
akal aktif atas imajinasinya, hakikat ini diperoleh juga oleh seorang filosof,
pertbedaan hanya terletak pada teknik memperolehnya. Filosof mendapatkan
kebenaran tersebut daribawah ke atas, yakni dari daya indrawi naik ke daya
khayal dan naik lagi ke daya berfikir yang dapat berhubungan dan menangkap
hakikat-hakikat atau kebenaran dari akal aktif. Sementara itu, Nabi mendapatkan
kebenaran diturunkan lansung dariatas ke bawah, yakni dari akal aktif lansung ke
pada nabi sebagai rahmat Allah. Maka dari itu sumber kebenaran yang diperoleh
nabi dan filosof adalah sama, yaitu akal aktif.
Dalam hal ini, Ibnu Maskawaih
berusaha mengkonsiliasikan antar agam dan filsafat, dan keduanya mesti cocok,
dan serasi, karena sumber keduanya sam. Justru itulah filosof adalah orang yang
paling cepat menerima dan mempercayai apa yang dibawa nabi karena nabi membawa
ajaran yang tidak bisa ditolak akal dan tidak ula bertentangan denganya. Ajaran
yang dibawa para nabi ini tidak dapat diketahui oleh manusia, kecuali oleh para
filosof. Dengan kata lain tidak dapat ditangkap semua lapisan masyarakat.
Persamaan antara nabi dan filosof,
bagi ibnu maskawaih adalah dalam mencapai kebenaran, bukan persamaan keduanya
dalam tingkatan kemuliaan dan kemaksumam.
4. Filsafat Moral
(Akhlak)
Ibnu Maskawaih seorang moralis yang
terkenal, hampir setiap pembahasan akhlak dalam Islam, filsafat nya ini selalu
mendapat perhatian utama, keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah
pembahasan yang didasarkan pada ajaran Islam ( Al-qur’an dan Hadis ) dan
dikombinasikan dengan pemikiran yang lain sebagai pelengkap, seperti filsafat
Yunani kuno dan pemikiran Persia. Dimaksud dengan pelengkap ialah sumber baru
diambilnya apabila sejalan dengan ajaran Islam dan sebaliknya ia tolak, jika
tidak demikian.
Akhlaq, menurut Ibnu Maskawaih ialah
sutu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untyuk berbuat tanpa
dipikirkan dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Sementara tingkah laku manusia
terbagi menjadi dua unsure, yakni unsure watak naluriah dan junsur lewat
kebiasaan dan latihan.
Kalau kita lihat teks diatas
barusan, sepertinya sangat bertentangan dengan pandangan orang-oarang Yunani
yang mengatakan bahawa akhlaq mnusia tidak dapat berobah. Tetapi bagi Ibnu
Maskawaih, akhlaq yang tercela dapat dirobah menjadi akhlaq yang terpuji dengan
jalan pendidikan ( tarbiyah al-akhlaq ) dan latihan-latihan.
Pemikian seperti ini sangat sejalan dengan ajaran Islam secara eksplisit telah
mengisyaratkan kearah ini dan pada hakikatnya syari’at agama bertujuan
mengokohkan dan memperbaiki akhlaq manusia.
Ibnu
maskawaih juga menjelaskan sifat-sifat yang utama pada diri manusia. Sifat ini,
menurutnya erat kaitannya dengan jiwa yang memiliki tiga daya : daya pikir,
daya marah, dan daya keinginan. Sifat hikmah adalah sifat utama bagi jiwa
berpikir yang lahir dari ilmu. Berani adalah sifat utama bagi jiwa marah yang
timbul dari sifat hilm( mawas diri ). Sementara murah adalah sifat
utama bagi keinginan yang lahir dari ‘iffah’ ( memelihara kehormatan diri ).
Dengan demikian ada tiga sifat utama dalam diri manusia yaitu : hikmah,berani,
dan murah. Apabila ketiga sifat utama ini serasi, maka muncul sifat utama yang
ke empat, yakni adil. Adapun lawan dari ke empat sifat utama ini ialah
bodoh,rakus,penakut, dan zalim
Keberhasilan
miskawaih dalam menyusun filsafat moral, mengantarkan miskawaih pada jajaran
filosof muslim ternama. Dengan mendapat gelar sebagai bapak etika islam.
Maskawaih dikenal juga sebagai guru ketiga (Al-mualim Al-TSalis),
setelah Al-Parabi yang digelari guru kedua (Al-mualimAl-Tsalis)
sedangkan guru pertama (Al-Mualim Al-Awwal) adalah Aristoteles.
Pemikiran-pemikiran Maskawaih Ikhwal Ahlak atau etika secara gamlang ditulis
dalam sebuah karya monumentalnya yaitu kitab Thdzibul Alahlak wat tathhir
Al-Araq. Kontruksi teori etika persi Maskawaih tidak seluruhnya utuh
berssumber dari pemikiran maskawaih sendiri, karena pemikiran maskawaih tentang
teori etika bersumber juga dari filsafat yunani, peradaban persia, dan ajaran
syriat islam menurut Ibnu Maskawaih moral (Akhlak) adalah suatu sikap mental
(halun li al-nafs) yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa
berpikir dan pertimbangan. Dengan demikian sikap mental yang mewujud [5]menjadi
perbuatan itu merupakan perbuatan spontanitas sikap mental ini terbagi mnejadi
dua berdasar dari watak dan juga berasal dari kebiasaan dan latihan oleh sebab
itu sangatlah penting meneggakan ahlak yang benar dan sehat sebab dengan
landasan yang demikian, akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik tanpa ada
kesulitan.
Akhlak
tidak bersifat natural atau pembawaan tetapi hal itu perlu diusahakan,
perubahanya dapat dilakukan secara bertahap akhlak yang terpuji bisa dicapai
dengan belajar dan latihan terutama untuk generasi muda mereka harus membiasak
berbuat baik mencari kebaikan dsb. Ahklak terpuji sebagai menipestasi dari
watak tidak banyak dijumpai yang sering dijumpai adalah dikalangan manusia
mereka yang memiliki sifat yang kurang terpuji. Ibnu Maskawih menolak pendapat
sebagai pemikir yunani yang mengatakan ahklak yang berasal dari watak tidak
mungkin berubah oleh Ibnu maskaih ditegaskan kemungkinan perubahan ahklak itu
terutama melalui pendidikan. Dengan demikian, dijumpai ditengah masyarakat ada
orang yang memiliki ahklak yang dekat kepada malaikat dan ada pula yang lebih
dekat kepada hewan.
a. Pandangan maskawaih tentang
pendidikan Akhlak
Teori pendidikan persi Maskawaih didasarkan pada teori
Aristoteles yang menekakankan padan segi intelektual, kejiwaan, dan pendidikan
moral yang ditujukan pada upaya melahirkan manusia yang baik menurut pandangan
masyarakat agar mencapai kebahagian hidup yang abadi. Ilmu pengetahuan adalah
dasar tumbuh kepribadian yang baik dan akar seluruh kebaikan adalah ilmu
pengetahuan, dengan itu manusia akan mencapai tingkat kesempurnaan.
Pandangan maskawaih tentang konsep pendidikan anak bahwaa
kehidupan utama pada anak-anak memerlukan dua syarat yaitu syarat kejiwaan dan
sarat sosial. Sarat pertama tersimpul dalam menumbuhkan watak Cinta kebaikan,
syarat yang kedua adalah dapat dicapai dengan cara memilihkan teman-teman yang
baik, menjauhkan dari pergaulan dengan teman-temannya yang berperangi buruk.
Bedasarkan deskripsi diatas, dalam masalah konsep
pendidikan, Maskawaih melakukan pengkondisian terhadap watak yang berupa bawaan
manusia sejak lahir. Selain itu Maskawaih juga melakukan pengkondisian terhadap
lingkungan. Dengan demikian, konsep pendidikannya sejalan dengan para penganut
teori konpergensi, yang menyatakan bahwa perkemabangan manusia ditentukan oleh
faktor bawaan dan lingkungan.
Dengan demikian implementasi pendidikan dalam pandangan
Maskawaih sesungguhnya di proyeksikan kepada pembinaan ahklak mulia peserta
didik, dengan harapan peserta didik mampu memiliki ahklak mulia sebagaimana
yang dicontohkan Rasulullah saw. Yang kedua .
b. Kebahagian
Maskawaih membedakan antara Alkhair (kebaikan) dan
Al-Sa’adah (kebahagian). Kebaikan mempunyai identitas tertentu, sedangkan
kebahagian berbeda-beda bergantung kepda orang-orang yang berusaha
memperolehnya. Maskawaih kebahagian tertinggi itu lain adalah kebijaksanaan
yang meenghimpun dua aspek yaitu aspek teoritis yang bersumber kepada
kontiunitas pikir akan ahklak-ahklak wujud dan aspek praktis yang berupa
keutamaan jiwa yang mampu melahirkan perbuatan yang baik. Maskawaih
sebagaimana Aristoteles, mengelompokan kebahagian, tetapi menembahkannya secara
lebih terperinci, yang mungkin diambil dari komentar porphyry. Pengelompokan
ini terdiri atas. Kesehatan, kekayaan, kemashuran, kehormatan, keberhasilan dan
pemikiran yang baik. Setelah memaparkan ajaran Aristoteles tentang
kebahagian, Maskawih menyodorkan pendapat-pendapa Hipokrates, Phytagoras,
Plato, Kaum Stoa, dan beberapa dokter yang percaya bahwa tubuh adalah bagian
ddari manusia dan bukan alat dari manusia; kaarena itu kebahagian ruh tidak
akan lengkap apabila tidak disertai kebahagiaan tubuh.
c.
Cinta dan Persahabatan
Cinta menurutnya ada macam.
Cinta kepada Allah dan cinta kepada Manusia, terutama cinta murid kepada
gurunya. Cinta yang tinggi yang paling tinggi nilainya adalah cinta
kepada allah, tetapi cinta tipe ini hanya dapat dicapai sedikit orang. Ccinta
kepada manusia ada kesamaan antara cinta anak kepada orangtua dan cinta murid
kepada guru, tetaapi cinta murid kepada guru dipandang lebih mulia dan lebih
berperanan, guru adalah bapak rohani bagi muridnya gurulah yang mendidik
murid-muridnya untuk dapat memiliki keutamaan yang sempurna.
Konsep Maskawih tentang cinta dan
persahabatab tersebut menjadi modal utama dalam menjalani hidup dan kehidupan
ini. Nampaknya Maskawih berusaha mewujudkan nuansa kehidupan yang harmoni
dengan mengedepankan kebersamaan,persatua, dan kesatuan, kekeluargaan, dan
kedamaian.
5.
Filsafat politik
Maskawih menegaskan bahawa
syariat islam adlah imam yang kekusanya seperti raja.yang berpaling pada agama
adalah penjajah (inugthaghallig) , tisak berhak disebut raja. Raja adalah
paengawal utama aturan atura tuhan dan menjaga masyarakat tetap berpegang teguh
pada ajaran agama
Oleh karenya maskwih berpendapat
bahwa antara agama dengan negara tidak bisa dipisahkan. Dikutipnya pendapat
Azdsher (raja dan filosof bangsa persia) yang mengatakan bahwa agama dan
kerajan ibarat dua krajan kembar atau dua sisi mata uangnya yang sama ,
yang satu tidak dapat sempurna tanpa yang lain agama merupakan landasan dasar,
kerajan adalah pengawalnya .segala sesuatu tandpa landasan dasr akan
hancur,dansegala sesuatu tanpa pengawal akan sia sia . menurutnya raja yang
berkuasa guna menjaga tegaknya agama, dan harus selalu waspada menjaga
posisinya melaksanakn tgasnya dengan sungguh ,tidak lengah, tidak mengejar
kenukmatan pribadi, tidak mengejar kehormatam ,dan kesenangan melainkan dengan
jalan yang sah menurut agama.
Raja yang melapaui batas kewenangan
akan menakibatkan kelemahan dan kerusakan. Kedudukan agama menjadi goyah.
Rakyat akan hdup menuruti keinginan nafsu syahwat mereka. Makin banyak orang
yang berbuat sesui syahwatnya akhirnya kebagyagyan berbalik menjdi kesengsaraan
,perselisihan,perpecahan ,dan tujuan ajaran syariat tidak tecapai. Jika
demikian , tibalah satanya untuk mengadakan perubahan pemimpin kerajan dan
dicarikan imam yang sebenarnya, dan raja yang adil.
Maskawih memeperingatakan juga
adanya rajaj yang disebtkan oleh khalifah Abu Bakakr Ash_shidiq falam
pidato penobatanya sebagai khlifah : manusia yang paling sengsara di
dunia dan akhirat adalah raja-raja. Yang dimaksud adalah raja yang setelah
berkuasa amat sayang memebelanjakan harta yang di miliki , tetepai tamak
terhadap harta orang lain, dan htinya selalu diliputi rasa ketakutan. Eaja yang
demikian selalu mengharapkan hilangnya kenikmatan pada orang pakirmiskin dan
menunjukan rasa tidak senang kepada orang kaya merasa bosan ter,hadap kemkmuran
bersama. Raja yang demikian itu ibarat mata uang palsu dan fatamorgana yang
menipu, lahirnya tanmpak pemberani tetapi batinya pengecut.[6]
C.
Pengaruh Pemikiran Ibnu Maskawaih Terhadap Filosop lainnya
Bilamanapun, orisnalitas pemikiran
Maskawaih jelas sangat berpnagruh dan baik, selam masa hidupnya maupun sesudah
mati sebagian karyanya yang menggabungkan pemikiran abstrak dengan saran-saran
praktris adalah gaya yang merangsang, memikat seluruh rentang pendengar yang
berbeda dan sangat populer lama setelah ia meninggal. Pemikiran ibnu Maskawaih
membawa filisof yang lainnya, salah satunya adalah ibnu sinna yang terkenal
dengan ahli kedokteran, tetapi pengaruh pemikiran yang diadopsi dari ibnu
Maskawaih adalah tentang kenabian yang mana Ibnu sinna juga berpendapat bahwa
nabi bertitik tolak dari tingkatan akal.
Dari pemaparan pendapat Ibnu sinna
diatas, dapat terlihat bahwa pemikiran tersebut dipengaruhi oleh pendapat Ibnu
maskawaih, yang berpendapat bahwa seorang nabi memiliki akal tertinggi
yang bisa langsung berhubungan dan mengkap hakikat-hakikat kebenaran dari akal
aktif. Denagan demikian, nabia adalah orang yang membawa ajaran yang tidak
bertentangan dengan akal sehinnga bisa membawa atau mengantarkan kita kepada
kebahagian di dunia maupun kelak diakhirat.
Pemikiran ibnu Maskawaih memberikan
pengaruh pada pemikiran Al-Ghazali terutama tentang pembahasan proses
penciptaan alam dan filsafat moral/ahklah. Bahkan devinisi ahklak yang
dilontarkan keduanya relatif sama. Namun disisi lain, Ibnu maskawaih menolak segala
bentuk kehidupan Al-mutawahhid (pertapaan) menurut, hal tersebut dapat
menyebabkan terlambatnya syiar keagaaman seperti shalat jamaah, haji, dan yang
lainnya yang menyyangkut kehidupan yang berhungan dengan orang lain dan juga
yang bersifat sosial. Sedangkan AL-gazalli tidak menolak adanya pertapaan
tersebut, karena pertapaan yang dilakukan itu bukan untuk menghindari kehidupa
sosial, tetapi untuk merenungkan atau juga dapat disebut untuk intropeksi diri
sehingga ada perubahan hidup yang lebih baik setelah melakukan pertapaan
tersebut.
1. Dasar-dasar
Etika
Ibnu Maskawaih juga digelari sebagai guru yang
ketiga sesudah Aristoteles sebagai guru pertama dan Al-Farabi sebagai guru yang
kedua. Ibnu Maskawaih dianggap sebagai guru etika salah satunya adalah karangan
beliau yang berjudul Tahzibul Akhlak (Pendidikan Budi) yang sudah dipakai oleh
para pakar pendidikan agama islam untuk dijadikan teori terutama tentang adab
manusia. Sementara itu sumber filsafat etika ibnu Miskawaih
berasal dari filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam, dan
pengalaman pribadi. Dalam menjelaskan Etika Islam Menurut Ibn Miskawaiah, akan
dijelaskan poin-poin penting yang relevan dengan pembahasan ini.
a. Pengertian Akhlak
Akhlak menurutnya adalah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang
mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku
manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur
kebiasaan dan latihan.[18] Ibnu Maskawaih adalah
seorang moralis terkenal. Hampir setiap pembahasan akhlak dalam Islam,
filsafatnya selalu mendapat perhatian utama. Akhlak adalah jamak dari khuluq
yang artinya sikap, tindakan, tindak-tanduk dan sikap, inilah yang akan membentuk
sikap kita dan inilah yang bisa dikomentar oleh orang lain berbeda dengan khalq
atau ciptaan karena tidak bisa dikomentar dalam artian langsung ci[7]ptaan
Allah swt semata seperti fisik manusia itu sendiri.
Menurut Ibnu Maskawaih, akhlak merupakan bentuk
jamak dari khuluq,
الخلق حال
للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية
yang berarti keadaan jiwa yang mengajak atau
mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa difikirkan dan
diperhitungkan sebelumnya.
Dengan kata lain akhlak adalah keadaaan jiwa
yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontan. Sikap jiwa atau
keadaan jiwa seperti ini terbagi menjadi dua; ada yang berasal dari watak
(bawaan) atau fitrah sejak kecil dan ada pula yang berasal dari kebiasaan latihan.[20] Dengan demikian, manusia
dapat berusaha mengubah watak kejiwaan pembawaan fitrahnya yang tidak baik
menjadi baik.
Ibn Miskawaih memandang manusia adalah makhluk yang
memiliki keistimewaan karena dalam kenyataannya manusia memiliki daya pikir dan
manusia juga sebagai mahkluk yang memiliki macam-macam daya. Ibn Miskawaih
menonjolkan kelebihan jiwa manusia atas jiwa binatang dengan adanya kekuatan
berfikir yang menjadi sumber tingkah laku, yang selalu mengarah kepada
kebaikan.
Dari defenisi di atas jelaslah bahwa Ibn Maskawaih menolak
pendapat sebagian pemikir Yunani yang mengatakan bahwa akhlak atau moralitas
manusia berasal dari watak dan tidak mungkin dapat berubah. Ia
menegaskannya bahwa kemungkinan perubahan akhlak dan moralitas itu selalu
terbuka lebar terutama bila dilakukan melalui pendidikan
(tarbiyyah). Mengawali pembahasan tentang akhlak ini, Ibn Maskawaih
membahas atau memberi beberapa prinsip dasar tentang akhlak, yakni
Tujuan ilmu akhlak adalah membawa manusia kepada kesempurnaan.
Kesempurnaan manusia terletak pada pemikiran dan amal perbuatan. Yaitu
kesempurnaan ilmu dan kesempurnaan amal. Tugas ilmu akhlak terbatas pada sisi
amal perbuatan saja, yakni meluruskan akhlak dan mewujudkan kesempurnaan moral
seseorang, sehingga tidak ada pertentangan antar berbagai daya dan semua
perbuatannya lahir sesuai dengan daya berpikir.
Kelezatan indrawi hanya sesuai dengan hewan
tidak dengan manusia. Bagi manusia kelezatan akali adalah yang lebih sesuai
dengan martabatnya sebagai manusia. Anak-anak harus di didik sesuai
dengan akhlak yang mulia, disesuaikan dengan rencananya dengan urutan daya-daya
yang mula-mula lahir padanya. Jadi, dimulai dengan jiwa keinginan, lalu jiwa
marah, dan akhirnya jiwa berpikir. Rencana pendidikan juga dimulai dengan adab
makan, minum, berpakaian (jiwa keinginan), lalu sifat-sifat berani dan daya
tahan (jiwa marah) dan akhirnya sifat bernalar, sehingga akal dapat mendominasi
segala tingkahlaku (jiwa pikir).
b.Kebahagiaan(Sa’adah)
Maskawaih membedakan antara al-khair (kebaikan) dengan al-sa’adah (kebahagiaan). Dimana kebaikan menjadi tujuan semua orang: kebaikan umum bagi seluruh manusia dalam kedudukan sebagai manusia. Sedangkan kebahagiaan adalah kebaikan bagi seseorang, tidak bersifat umum, tetapi relatif tergantung kepada orang per orang.
Ada dua pandangan pokok tentang kebahagiaan (sa`adah).
Yang pertama diwakili oleh Plato yang mengatakan bahwa hanya jiwalah yang
mengalami kebahagiaan. Karena itu selama manusia masih berhubungan
dengan badan ia tidak akan memperoleh kebahagiaan. Pandangan kedua dipelopori
oleh Aristoteles, yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dinikmati di dunia
walaupun jiwanya masih terkait dengan badan. Hanya saja, kebahagiaan berbeda
menurut masing-masing orang seperti orang miskin memandang kebahagiaan itu pada
kekayaan, dan orang sakit pada kesehatan, dan seterusnya.
Ibnu Miskawaih mencoba mengompromikan kedua pandangan yang berlawanan
itu. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan,
maka kebahagiaan meliputi keduanya. Hanya kebahagiaan badan lebih rendah
tingkatnya dan tidak abadi sifatnya jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa.
Kebahagiaan yang bersifat benda mengandung kepedihan dan penyesalan, serta
menghambat perkembangan jiwanya menuju ke hadirat Allah swt.
Kebahagiaan jiwa merupakan kebahagiaan yang sempurna yang mampu mengantar
manusia menuju derajat malaikat.
c. Pendidikan Akhlak
Dalam karangan-karangan beliau banyak menunjukkan hal-hal yang
sifatnya material dalam kontek moral seperti pokok pendidikan akhlaknya ketika
mengangkat persoalan-persoalan yang wajib bagi kebutuhan manusia dan jiwa
sebagai hal wajib akan menentukan perubahan psikologis ketika terjadi interaksi
sesama manusia.[23] Dari beberapa uraian
diatas memberikan konsekwensi logis, dimana seluruh materi pendidikan pada
umumnya merupakan hal yang wajib dipelajari didalam pendidikan moral/akhlak,
seharusnya ilmu-ilmu yang diajarkan dalam proses pendidikan moral tidak hanya
diperuntukkan sebagai tujuan akademik semata tetapi akan lebih bermamfaat
ketika hal-hal yang bersifat subtansial/esensial dipenerapannya dalam hubungan
sosial.
Dapat disimpulkan bahwasanya sifat utama itu
antara lain: hikmah, berani, dan murah yang apabila ketiga sifat utama ini
selaras, maka sifat keempat akan timbul darinya, yakni keadilan. Sedangkan
lawan dari semua sifat itu adalah bodoh, rakus, penakut, dan zalim.
Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibn Miskawaih memang
terlihat mengarah kepada terciptanya manusia agar sebagai filosuf. Karena itu
Ibn Miskawaih memberikan uraian te[8]ntang
sejumlah ilmu yang dapat di pelajari agar menjadi seorang filosuf. Ilmu
tersebut ialah:
a) Matematika
b) Logika
dan
c) Ilmu
kealaman
E. IBN RUSYD
F. Biografi Ibn Rusyd
Nama lengkapnya adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad
ibn Rusyd, di barat dan didalam literatur latin abad tengah akhir ia dikenal
dengan nama averroes. Ia dilahirkan di Cordova pada 520 H (1126 M) dari
keluarga yang terkenal alim dalam ilmu fikih di Spanyol-Islam. Kakeknya dari
pihak ayah pernah menjadi kepala pengadilan di Andalusia, disamping kedudukannya
sebagai salah seorang ahli hukum terkemuka dalam mazhab Maliki, salah satu
mazhab yang sangat dominan dalam wilayah maghribi dan Andalusia. Selain itu,
kakeknya juga aktif dalam kediatan politik dan sosial. Namun ketika kelahiran
Ibn Rusyd, Daulah Murabithun-didirikan oleh Yusuf ibn Tashfin (1090-1106 M) di
maghribi dan berakhir pada masa kesultanan kelima, Ishak (1146-1147 M). dunia
intelektual pada masa ini didominasi oleh para ahli fikih yang bersikap sangat
tidak simpatik terhadap ilmu-ilmu rasional, sedang berada di jurang keruntuhan.
Empat tahun setelah kelahiran Ibn Rusyd, Muhammad ibn Tumart (1078-1130 M),
pemimpin Daulah Muwahhidin wafat.
Pada tahun 1153 Ibn Rusyd pindah ke Maroko, memenuhi
permintaan Khalifah Abd al-Mu’min, khalifah pertama dari Dinasti Muwahhidin,
khalifah ini banyak membangun sekolah dan lembaga ilmu pengetahuan, ia meminta
Ibn Rusyd untuk membantunya mengelola lembaga-lembaga tersebut.
Pada tahun 1169 risalah pokok tentang medis, al-risalah,
telah diselesaikannya, dan pada tahun yang sama pula, ia diperkenalkan oleh Ibn
Thufail kepada Khalifah Abu Ya’qub. Hasil dari pertemuan ini Ibn Rusyd diangkat
sebagai qadhi di Saville. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut dengan
sebaik-baiknya. Diriwayatkan bahwa Ibn Rusyd hanya dua malam melewatkan begitu
saja tanpa membaca dan menulis, yaitu malam meninggal ayahnya dan malam
perkawinannya. Berbeda dengan Ibn Sina. Ibn Rusyd tidak gemar menghadiri
tempat-tempat hiburan dan menyaksikan tari-tarian, sehingga ia lebih disegani
dan dihormati. Semenjak itu pula, ia mulai menafsirkan karya-karyanya
Aristoteles atas permintaan khalifah tersebut. Keberhasilannya menafsirkan
karya-karya Aristoteles ini menjadikan ia terkenal dengan gelar “Komentator
Aristoteles”.
G.
Karya Ibn Rusyd
Ibn Rusyd menulis dalam banyak bidang, antara lain ilmu
fikih, kedokteran, ilmu falak, filsafat, dan lain-lain. Sebenarnya karyanya
yang paling besar berpengaruh di barat, yang dikenal dengan Averroism adalah
komentarnya atas karya-karya Aristoteles, bukan saja dalam bidang filsafat,
juga dalam bidang ilmu jiwa, fisika, logika, dan akhlak. Manuskrip-manuskrip
arabnya sudah tidak ada, namun masih terdapat terjemahan-terjemahannya dalam
bahasa Latin dan Ibrani. Karya-karyanya yang lain adalah :
a.
Bidayah al-Mujtahid wa nihayah al-muqtashid fi al-fiqh.
b.
Kitab al-mulliyat fi al-Thaib, telah diterjemahkan dalam bahasa latin, caliget.
c.
Tahafut al-Tahafut, yang merupakan sanggahan terhadap kitab al-Gazali, tahafut
al-falasifah, telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan banyak mempengaruhi
Thomas van Aquinas.
d. Al-Kasyf’an
manahij al-adillah fi ‘aqaid al-milah.
e.
Fashl al-maqal fima bain al-hikmah wa al-syari’ah min al-ittishal, mencoba
mempertemukan agama dengan filsafat.
f.
Dihamimah li masalah al-qadim.
H.
Filsafat Ibn Rusyd
Filsafat Ibn Rusyd sangat dipengaruhi oleh pemikiran
Aristoteles. Hal itu wajar, karena ia banyak menghabiskan waktunya meneliti dan
membuat komentar-komentar terhadap karya-karya Aristoteles dalam berbagai
bidang, sehingga ia digelar Syarih (komentator).
Aristoteles menurut pendapatnya adalah manusia istimewa dan
pemikir terbesar yang telah mencapai kebenaran yang tidak mungkin bercampur
kesalahan. Kadang-kadang manusia salah memahami buku-buku Aristeteles,
sebagaimana yang dikutip oleh Ibn Rusyd dari kitab-kitab Al-Farabi dan Ibn
Sina. Ibn rusyd dalam beberapa hal tidak setuju dan berbeda pendapat dengan
kedua filsuf ini dalam memahami filsafat Aristoteles. Ibn rusyd berkeyakinan
jika filsafat Aristeteles dapat dipahami dengan sebaik-baiknya, pasti tidak
akan berlwanan dengan pengetahuan tertinggi yang mampu dicapai manusia.
Sekalipun Ibn Rusyd sangat terpengaruh dengan pikiran
Aristoteles, bukanlah berarti ia sangat memahami pikirannya. Karena ia tidak
mendalami bahasa Yunani, dimana buku-buku Aristoteles ditulis dalam bahasa itu.
Ia memahami pikiran-pikiran Aristoteles atas bantuan buku-buku terjemahan dan
ulasan-ulasan para ahli. Seperti Hunain bin Ishaq, Ishaq nin Hunain, Yahya ibn
Ady, dan Abu Basyar Mata.
Ibn Rusyd sebagai filsuf besar, juga memikir, membahas dan
memecahkan masalah-masalah yang pernah dipikirkan oleh filsuf-filsuf
sebelumnya. Ia tidak menerima begitu saja pikiran-pikiran mereka, tetapi
menerima yang setuju dan menolak yang sebaliknya. Ia mengkritik al-Farabi, Ibn
Sina, Al-Gazali, Ibn Bajjah, dsb. Hal ini tergantung pada materi masalah yang
dibahas.
a.
Metode pembuktian kebenaran
Sejalan dengan pengajaran syari’at untuk pembuktian
kebenaran konsep (tashdiq), metode yang dapat dipergunakan ada tiga macam,
yaitu:
1)
Metode Retorika (al-khatabiyyah);
2)
Metode Dialektik (al-jadaliyyah);
3)
Metode Demonstrative (al-burhaniyyah).
Metode retorik dan dialektik diperuntukan bagi manusia awam,
sedangkan metode demonstrative secara spesifik dikonsumsikan bagi kelompok
kecil manusia. Tentu saja al-Qur’an sebagai kitab suci untuk semua lapisan
umat, tersahuti didalamnya semua aspek kehidupan sejalan dengan maksud
kehadirannya pembawa rahmat untuk semesta alam.
Dalam konteks syari’atnya,
metode-metode terbagi kepada empat macam kategori:
Pertama, metode yang bersifat umum, sekaligus
bersifat khusus.
Kedua,
metode yang premis-premisnya sekalipun
bersifat masyhur atau madhmum, namun kebenarannya mencapai tingkat pasti
(yaqini). metode ini kongklusinya diambil dari perumpamaan-perumpamaan bagi
objek-objek yang menjadi tujuannya.
Ketiga,
kebalikan dari yang kedua, yaitu
metode yang konklusinya berupa objek-objek yang hendak disimpulkan itu sendiri,
sedangkan premis-premisnya bersifat msyhur dan madhmum, tanpa terbuka
kemungkinan untuk mencapai tingkat yaqini.
Keempat,
metode yang premis-premisnya
bersifat masyhur atau madhunun, tanpa membuka kemungkinan untuk mencapai
tingkat yaqini.
b.
Metafisika
Dalam masalah ketuhanan, Ibn Rusyd berpendapat bahwa Allah
adalah penggerak pertama (muharrik al-awwal). Sifat positif yang dapat
diberikan kepada Allah ialah “Akal”, dan “Maqqul”. Wujud Allah ialah Esa-Nya.
Wujud dan ke-Esa-an tidak berbeda dari zat-Nya.
Konsepsi Ibn Ruyd tentang ketuhanan jelas sekali merupakan
pengaruh Aristoteles, Potinus, Al-Farabi, dan Ibn Sina, disamping keyakinan
agama Islam yang dipeluknya, mensifati Tuhan dengan “Esa” merupakan ajaran
Islam, tetapi menanamkan Tuhan sebagai penggerak pertama, tidak pernah dijumpai
dalam pemahaman Islam ebelumnya, hanya dijumpai dalam filsafat Aristoteles dan
Plotinus, Al-Farabi, dan Ibn Sina.
Cara mengenal Tuhan menurut golongan Tasawuf bukan bersifat
pemikiran yang tersusun dari premis-premis yang menghasilkan kesimpulan. Karena
menurut mereka mengenal Tuhan dan maujud-maujud lainnya adalah melalui jiwa
ketika sudah terlepas dari hambatan-hambatan kebendaan dan menghadapkan pikiran
kepada apa yang dituju. Ibn Rusyd mengatakan bahwa apabila kita terima pikiran
kepada apa yang dituju, maka tidak bisa juga diperlakukan untuk umum,
sebagaimana manusia yang mempunyai pikiran. Bahkan, jalan tersebut berlawanan
dengan syariat yang menyuruh mempergunakan pikiran.
Setelah mengemukakan kelemahan-kelemahan buku
golongan-golongan tersebut diatas, Ibn Rusyd menerangkan dalil-dalil yang
meyakinkan:
1. Dalil inayah al-ilahiyah
(pemeliharaan Tuhan).
Firman
Allah SWT dalam surah An-Naba: 78: 6-7. Yang artinya: Bukankah Kami telah
menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, Dan gunung-gunung sebagai pasak?,
2. Dalil
Ikhtira’ (dalil ciptaan).
Firman
Allah SWT dalam surah Hajj: 22 : 73 Yang artinya: “Hai manusia, telah dibuat
perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang
kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun,
walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu
dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat
lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.[9]
3.
Dalil harkah (gerak) alam semesta ini bergerak dengan suatu gerakan yang abadi.
Gerakan tersebut menunjukkan adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan
bukan benda, yaitu Tuhan.
c.
Tanggapan terhadap Al-Ghazali
Melalui buku tahafut al-Falasifah (Kekacauan Pemikiran Para
Filsuf), Al-Ghazali melancarkan kritik keras terhadap para filsuf dalam 20
masalah. Tiga dari masalah tersebut, menurut Al-Ghazali, dapat menyebabkan
kekafiran. Permasalahan dimaksud adalah: Pertama, qidamnya alam. Kedua, Tuhan
tidak mengetahui perincian yang terjadi dialam. Ketiga, tidak adanya
pembangkitan jasmani.
Sehubungan serangan dan pengkafiran Al-Ghazali itu, Ibn
Rusyd tampil membela para filsuf dari serangan dan pengkafiran. Dalam rangka
pembelaan itulah ia menulis buku tahafut al-Tahafut (Kekacauan dalam
Kekacauan), yang menunjukkan secara tegas bahwa Al-Ghazali-lah yang sebenarnya
yang dalam kekacauan pemikiran, bukan para filsuf. Berikut penjelasan Ibn Rusyd
terhadap Al-Ghazali dalam tiga masalah tersebut.
a)
Pendapat Filsuf tentang Qadimnya Alam
Pendapat para filsuf bahwa alam kekal dalam arti tidak bermula
tidak dapat diterima kalangan teologi Islam, sebab menurut konsep teologi
Islam, Tuhan adalah pencipta. Yang dimaksud pencipta ialah mengadakan sesuatu
dari tiada (creation ex nihilio). Kalau alam dikatakan tidak bermula, berarti
alam bukanlah diciptakan, dengan demikian Tuhan bukanlah pencipta. Pendapat
seperti ini membawa kekufuran. Demikian gugatan Al-Ghazali dalam kitabnya
Tahafut al-Falasifah.
Pendapat Ibn Rusyd ini didukung oleh beberapa ayat al-Qur'an
surat hud yang mengandung pengertian bahwa Tuhan menciptakan sesuatu dari
sesuatu yang sudah ada, bukan dari tiada, seperti berikut ini.
Artinya
:
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji
siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya… (QS. Hud : 7)
b)
Pendapat Filsuf tentang pengetahuan Tuhan
Masalah kedua yang digugat oleh al-Ghazali dan dianggapnya
dapat membawa kepada kekufuran ialah masalah Tuhan tidak mengetahui perincian
yang terjadi di alam.
Pernyataan yang mengatakan bahwa Tuhan hanya mengetahui
tentang diri-Nya, atau pernyataan yang mengatakan bahwa Tuhan hanya mengetahui
tentang selain diri-Nya, tetapi pengetahuan-Nya itu bersifat kuli, tidak dapat
didbenarkan, sebab menurut Ghazali, setiap yang maujud ini diciptakan karena
kehendak Tuhan, dan juga setiap yang terjadi dialam atas kehendak-Nya. Tentulah
seluruh itu diketahui oleh Tuhan, sebab yang berkehendak haruslah mengetahui
yang dikehendakinya. Jadi, Tuhan tentunya mengetahui segala sesuatu secara
rinci.
Kalau Al-Ghazali mengatakan, menurut para filsuf Tuhan tidak
mengetahui perincian yang terjadi di alam, maka oleh Ibn Rusyd menjawab,
Al-Ghazali dalam hal ini salah paham, sebab para filsuf tidak ada yang pernah
mengatakan demikian, yang ada ialah pendapat mereka bahwa pengetahuan tentang
perincian yang terjadi dialam tidak sama dengan pengetahuan manusia tentang
perincian itu. Jadi menurut Ibn Rusyd, pertentangan antara Al-Ghazali dan para
filsuf timbul dari penyamaan pengetahuan Tuhan dengan pengetahuan manusia.
c)
Pendapat Filsuf tentang kebangkitan jasmani
Masalah ketiga yang digugat Al-Ghazali dan dianggapnya dapat
membawa kekafiran ialah pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani (hasr
al-ajsad) diakhir oleh para filsuf.
Al-Ghazali didalam Tahafut al-Falasifah-nya telah
mengkafirkan para filsuf yang mengatakan bahwa diakhirat nanti manusia akan
dibangkitkan kembali dalam wujud rohani, tidak dalam wujud jasmani. Pengkafiran
ini, menurut al-Ghazali karena pendapat para filsuf tersebut sangat
bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur'an.
Dalam bahtahan gugatan dan vonis al-Ghazali, Ibn Rusyd
menandaskan bahwa filsuf tidak menolak adanya kebangkitan, bahkan semua agama
samawi mengakui adanya kebangkitan ukhrawi, hanya saja sebagian berpendapat
bahwa kebangkitan tersebut dalam bentuk rohani, dan sebagian yang lain
berpendapat bahwa dalam bentuk rohani dan jasmani sekaligus.
d.
Moral
Ibn Rusyd membenarkan teori plato bahwa manusia adalah
makhluk sosial yang membutuhkan kerjasama untuk memenuhi keperluan hidup dan
mencapai kebahagiaan. Dalam merealisasikan kebahagiaan yang merupakan tujuan
akhir manusia, diperlukan bantuan agama yang akan meletakkan dasar-dasar
keutamaan akhlak secara praktis, juga bantuan filsafat yang mengajarkan keutamaan
teoritik, untuk itu diperlukan kemampuan berhubungan dengan akal aktif.
e.
Averroisme
Betapa hebatnya pengaruh pemikiran Ibn Rusyd di Eropa pada
masa itu, sehingga dibentuk kelompok untuk mempelajari pemikiran Ibn Rusyd
untuk kemudian dapat diantisipasi pengaruhnya terhadap iman kristiani. Maka
dikenalilah Ordo Dominica yang salah satu tokohnya Thomas van Aquinas. Bahkan
dalam perkembangan selanjutnya. Pihak gereja melakukan peradilan inkuisisi yang
dapat membawa seseorang untuk dituduh sebagai murtad atau ateis, karena
mendukung atau mencetuskan pemikiran yang bertentangan dengan tradisi gereja.
Paus memerintahkan untuk memburu dan membakar hidup-hidup orang-orang murtad
tersebut, seperti dibakar, karena ia mengatakan bahwa pelangi adalah refleksi
sinar cahaya matahari ke atas air, bukan seperti kepercayaan gereja bahwa
pelangi diciptakan Tuhan untuk menyerang hamba-hamba-Nya yang keluar dari
ajaran agama.
Walaupun averroisme dilarang gereja, tetapi
pengikut-pengikutnya tetap setiap dan tidak habis-habisnya. Bahkan pada awal
XIV suaranya yang nyaring terdengar di Paris tatkala Johanes dari Jandum
menyatakan gerakan Averrioisme agak extrim, dikatakan bahwa averrroisme itu
adalah benar, disamping kitab pun benar. Jadi, menurutnya ada dua macam kebenaran,
yaitu satu yang filosofis dan yang satu teologis.
Jika diperhatikan lebih jauh, dikhotomi kebenaran ini
menjadi salah satu pemicu proses sekularisasi di Eropa, tetapi pada segi lain
pemikiran Ibn Rusyd membawa angin segar bagi perkembangan ilmu pengetahuan di
Eropa dan menjadi faktor utama lahirnya renaissance. [10]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1.
Riwayat
Ibnu Al-Maskawaih
Ibnu
Maskawaih pada dasarnya adalah ahli sejarah dan moralis. Ia juga seorang
penyair. Kesederhanaannya dalam melayani hawa nafsu, ketegaran dalam
menundukkan diri yang serakah dan kebijakan dalam mengatur dorongan-dorongan
yang tak rasional merupakan pokok-pokok petunjuk ini. Dia sendiri berbicara
tentang perubahan moral dalam bukunya Tahdzib al-Aqhlak yang menunjukkan bahwa
ia melaksanakan dengan baik apa yang telah ditulisnya tentang etika.
2. Filsafat Ibnu Al-Maskawaih
· Filsafat ketuhanan
· Filsafat kenabian
· Filsafat jiwa
· Filsafat moral
· Filsafat politik
3. Pengaruh Filsafat Ibnu Al-Maskawaih
Filsafat
Ibnu Al-Maskawaih membawa pengaruh pada filosof lain, salah satunya kepada ibnu
sina mengenai kenabian, selain itu juga berpengaruh kepada Al-Ghazali terutama
tentang pembahasan proses penciptaan alam dan filsafat moral atau etika.
4. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar
Muhammad ibn Abd al-Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail al-Qaisyi.
Dibarat dikenal dengan Abubacer. Ia dilahirkan di Guadix. Hayy ibn Yaqzhan,
yang merupakan inti sari pemikiran-pemikiran ibn Thufail. Tentang Filsafat dan
agama ibnu Thufail Mengatakan adalah selaras, bahkan merupakan gambaran dari
hakikat yang satu. Tentang zat dan sifat Allah, Ibn Thufail lebih cenderung
mengikuti pendapat Mu’tazilah. Tentang Konsepsi Ibn Thufail mengatakan jiwa
sejalan dengan yang dikemukakan oleh Al-Farabi.
5. Nama lengkapnya
adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd, di barat dikenal dengan
nama Averroes, Ia dilahirkan di Cordova. Karya-karyanya yang lain adalah :
Bidayah al-Mujtahid wa nihayah al-muqtashid fi al-fiqh, Kitab al-mulliyat fi
al-Thaib, telah diterjemahkan dalam bahasa latin, caliget. Tentang Tuhan Ibn
Rusyd berpendapat bahwa Allah adalah penggerak pertama (muharrik al-awwal).
Tentang moral Ibn Rusyd membenarkan teori plato bahwa manusia adalah makhluk
sosial yang membutuhkan kerjasama untuk memenuhi keperluan hidup dan mencapai
kebahagiaan.
[1]
Ibn
Miskawaih. Tahzib al-Akhlaq. (Beirut, Mansyurat Dar Maktabat
Al-Hayat. 1398H). Hal. 32.
M.M. Syarief, Para Filosof of Muslim, (Bandung :
Mizan, 1998). Hal. 84.
[2]
Abuddin Nata, Pemikiran
Para Tokoh Pendidikan Islam.Hal. 6.
Ahmad Daudy. Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1992). Hal. 56
[3] Ahmad Daudy. Kuliah
Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). Hal. 56
Harun Nasution, Akal
dan Wahyu dalam Islam, ( Jakarta: UI Press, 1983). Hal. 8.
[4]
Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam: Filosuf dan Filsafatnya, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2009). Hal. 127.
[5]
Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (
Jakarta: UI Press, 1983). Hal. 8.
Muhaimin. Kawasan dan
Wawasan Studi Islam. (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005). Hal. 327-328.
[6]
Muhaimin. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. (Jakarta: Fajar Interpratama
Offset, 2005). Hal. 327-328.
[7]
Abuddin Nata, Pemikiran
Para Tokoh Pendidikan Islam Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2003). Hal. 5.
[8]
Harun Nasution, Akal dan
Wahyu dalam Islam, ( Jakarta: UI Press, 1983). Hal. 8
[9]
Nasution,
Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit Gaya Media Pratama, 1999
Nasution,
Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit Gaya Media Pratama, 1999, hlm.387
[10]
Nasution,
Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit Gaya Media Pratama, 1999
Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam,
Jakarta: Penerbit Gaya Media Pratama, 1999, hlm.387
beuhh bapak filsafat wkwk
BalasHapus