model-model teori pembentukan alam semesta



Nama               : Ahmad Mansur
NPM               : 1511090126
Kelas               : B
Semester          : V

“SOAL”
SEBUTKAN DAN JELASKAN MODEL MODEL PEMBENTUKAN ALAM SEMESTA
A. Sejarah Lahirnya Alam Semesta
            Tiga belas miliar tujuh ratus juta tahun lalu tidak ada bintang-bintang di langit, bahkan alam semesta ini pun tidak ada. Kemudian sesuatu terjadi dalam sekejap, sebuah ledakan besar maha dahsyat. Ini adalah skenario ketika segala sesuatu dimulai, lahirnya ruang dan waktu, saat pertama kali eksistensi itu ada. Saat itu usia alam semesta hanya 10 pangkat minus 36 detik, sesaat setelah nol. Ilmuwan menyebutnya dengan Big Bang, awal mula terciptanya alam semesta. Saat itu sebutir zat tersebut tiba-tiba membesar dengan cepatnya. Alam semesta awal berusia tak sampai sedetik ini penuh dengan cahaya panas dan bersuhu sampai seratus miliar derajat Celcius. Partikel-partikel sub-atom terbentuk, diikuti inti-inti atom. Pendinginannya secara bertahap memungkinkan alam semesta yang semula berupa awan gas berkondensasi. Bintang pertama terbentuk pada 200 juta tahun setelah Big Bang, namun Bumi lahir baru pada 4,5 miliar tahun lalu. Dari ketiadaan menjadi suatu alam semesta yang maha luas dan terkait erat dengan berbagai hukum fisika ini sangat mencengangkan. Bahwa ternyata perubahan konstanta kosmologis sekecil apa pun akan mengakibatkan alam semesta tidak jadi terbentuk. Bahkan jika perubahan tersebut hanya sekecil satu per 10 pangkat 120 atau satu per triliun. Ini artinya telah disadari, bahwa penciptaan alam semesta amat sangat spesifik dan sungguh sangat tidak mungkin tercipta karena kebetulan. Kebetulan tidak memiliki peran sama sekali dalam teori asal-usul alam semesta. Stephen Hawking, si atheis, dalam bukunya A Brief History Of time, pun menyadari ketepatan yang luar biasa itu pada laju pengembangan langit satu detik setelah Big Bang. Jika laju perluasannya lebih lambat dari satu per seratus ribu juta, alam semesta akan hancur sebelum pernah mencapai ukurannya yang sekarang. Geraint F. Lewis, astrofisikawan yang berkutat menciptakan alam semesta sintetis dengan superkomputer mengajak bereksperimen dengan keempat gaya fundamental yang ada di alam semesta dan dikenal dalam fisika modern sebagai gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah. Jika gaya gravitasi lebih kuat atau lemah 100 kali, maka bintang-bintang di alam semesta tidak akan bersinar, atau sebaliknya, terbakar dengan cepat karena kehabisan bahan bakar nuklir dalam sesaat.
B. Model-Model Teori Pembentukan Alam Semesta
1.      Teori letupan besar (big bang)
            Dalam fisik kosmologi, Letupan Besar merupakan teori saintifik yang mengatakan alam semesta muncul dari keadaan yang sangat tumpat dan panas lebih kurang 13.7 bilion tahun dahulu. Teori Letupan Besar adalah berdasarkan cerapan anjakan merah hukum Hubble tentang jarak galaksi yang apabila disertakan sekali prinsip kosmologi mendapati ruang angkasa mengembang menurut model Friedmann-Lemaître bagi kerelatifan am. Ditentuluarkan ke masa silam, pemerhatian ini menunjukkan yang alam semesta mengembang dari keadaan ketika tenaga dan jirim dalam alam semesta ini sangat panas dan tumpat.Ahli fizik tidak bersetuju sepenuhnya tentang apa yang berlaku sebelum itu, walaupun kerelatifan am meramalkan ketunggalan graviti. Teori Letupan Besar dikembangkan dari cerapan dan pertimbangan teori. Secara cerapan, didapati kebanyakan nebula berpusar bergerak dari Bumi, tetapi sesiapa yang membuat pemerhatian tersebut tidak menyedari akan implikasi kosmologi mahupun yang nebula tersebut adalah galaksi luar Bima Sakti [3]. Pada 1927, Georges Lemaître menerbitkan persamaan Friedmann-Lemaître-Robertson-Walker dari persamaan Albert Einstein tentang kerelatifan am dan mencadangkan, tentang asas bagi runtuhan nebula berpusar, bahawa alam semesta bermula dari "letupan" "atom awal" yang kemudian dikenali sebagai Letupan Besar

2.      Teori Kabut Atau Yang Sering Disebut (Nebula)

Dari jaman sebelum masehi, para ahli sudah memikirkan bagaimana proses terjadinya bumi. Dan salah satunya adalah teori kabut atau yang disebut nebula yang diperkenalkan oleh Immanuel Kant pada tahun 1755 serta Piere de Laplace pada tahun 1796. Dimana mereka berdua terkenal dengan teori kabut kant laplace.
Dalam teori tersebut mengatakan bahwa di dalam jagat raya terdapat gas yang berkumpul menjadi kabut atau nebula. Dimana gaya tarik menarik antara gas yang kemudian membentuk kumpulan kabut yang sangat besar serta berputar semakin cepat.Dimana proses perputaran yang sangat cepat ini, materi kabut dibagian khatulistiwa terlempar dan terpisah serta memadat yang disebabkan karena pendinginan.
Pada bagian yang terlempar ini menjadi planet – planet di dalam tata surya. Teori nebula terbagi menjadi beberapa tahap .
Matahari beserta planet-planet yang masih berbentuk gas, dimana kabut yang masih sangat pekat dan besar.Kabut yang masih berputar serta berpilin dengan kuat dan pemadatan terjadi pada pusat lingkaran dan kemudian membentuk matahari.
Lalu pada saat bersamaan materi lainnya membentuk menjadi massa yang lebih kecil dai pada matahari dan kemudian menjadi planet, serta bergerak memutari matahari.Kemudian materi tersebut semakin besar dan selalu melakukan gerakan yang teratur mengitari matahari dalam satu orbit yang tetap kemudian membentuk tingkatan keluarga matahari.

3.       Teori Planetisima

Sejak awal abad 20, Forest Ray Moulton seorang ahli astronomi asal amerika serta rekannya Thomas C.Chamberlain ahli geologi, mengemukakan teori planestisimal hypothesis, bahwa matahari terbentuk dari massa gas yang bermassa sangat besar, disaat ada bintang lain yang melintas dan sangat dekat dan hampir terjadinya tabrakan. Terlalu dekatnya lintasan mempengaruhi antara gaya gravitasi dengan dua bintang yang mengakibatkan tertariknya gas serta materi ringan yang ada pada bagian tepi. Pengaruh gaya gravitasi menyebabkan materi terlempar dan meninggalkan permukaan matahari serta permukaan bintang. Materi yang terlempar menyusut serta membuat gumpalam planestimal. Kemudian planestimal dingin dan memadat yang membentuk planet yang mengitari matahari.

4.      Tori Pasang Surut Gas (Tidal)

Teori yang dikemukakan James Jeans dan Harold Jeffrey tahun 1918, bintang besar yang mendekati matahari dengan jarak pendek, yang pada akhirnya membuat pasang surut pada badan matahari, pada saat matahari dalam keadaan gas. Penyabab terjadinya pasang surut air laut adalah massa bulan serta jauhnya jarak antara bulan ke bumi 60 kali radius orbit di bumi.
Namun jika bintang yang massanya mendekati masa besarnya dengan matahari  mendekat, lalu akan membentuk semacam gunung  gelombang pada badan matahari, yang terjadi karna gaya tarik bintang. Gunung-gunung tadi akan menjadi tinggi yang sangat luar biasa kemudian terbentuk semacam lidah pijar yang sangat besar, yang menjulur oleh massa matahari dan mengarah ke arah bintang besar. Lambat laun kolom-kolom ini akan pecah kemudian akan menjadi benda tersendirian.
Dalam lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan akhirnya kolom-kolom ini akan pecah, lalu berpisah menjadi benda-benda tersendiri, yaitu planet-planet. Bintang besar yang menyebabkan penarikan pada bagian-bagian tubuh matahari tadi, melanjutkan perjalanan di jagat raya, sehingga lambat laun akan hilang pengaruhnya terhadap planet yang berbentuk tadi.
Planet-planet akan mengelilingi matahari namun tetapi ketika mengelilingi planet-planet yang besar proses pendinginannya akan lambat sedangkan pada planet-planet kecil akan berjalan lebih cepat.

5.      Teori Bintang Kembar

Teori yang dikemukakan seorang ahli astronomi R.A Lyttleton , teori ini menerangkan bahwa galaksi berawal dari kombinasi bintang kembar.
Dimana satu dari bintang itu meledak membuat banyak material yang terlempar, sedangkan bintang yang tidak meledak itu disebut matahari dan bintang yang meledak itu menjadi planet-planet yang mengelilingi matahari.

6.       Teori Pembentukan Alam Semesta Menurut Islam
Teori pembentukan alam semestaa menurut islam dan alqur’an ada enam masa yang di jelaskan dalam Qur’an Surat An-Nazi’at 27-33
Masa Pertama
“Apakah penciptaanmu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (Qs. An-Nazi’at: 27)
Saat masa ketiadaan ini, alam semesta terbentuk akibat ledakan besar atau dalam dunia barat disebut dengan Big Bang.
Ledakan super masif ini merupakan awal dari terbentuknya ruang dan waktu serta materi. Setelah itu mulai terbentuk dukhan atau awan debu. Dukhan yang berkondesasi sambil berputar akan memadat sehingga terbentuk unsur hidrogen.
Ketika suhu awan debu mencapai 20 juta derajat celcius, helium terbentuk dari reaksi inti sebagian atom hidrogen. Sedangkan sebagian lain berubah menjadi energi yang berbentuk pancaran sinar infra merah (infra red).

Masa Kedua
“Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyemperunakannya” (Qs. An-Nazi’at:28)
Ayat ke-28 dalam surat An-Nazi’at ini menerangkan proses pengembangan dan penyempernaan alam semesta. Kata “meninggikan bangunan” bermakna alam semesta mengembang, antar galaksi saling menjauhi dan langit semakin meninggi.
Sedangkan kata “menyempurnakan” berarti bahwa alam ini tidak langsung terbentuk seutuhnya. Namun mengalami proses perubahan yang bertahap.
Masa Ketiga
dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang) (Qs. An-Nazi’at: 29)
Pada masa ketiga ini terbentuk matahari yang berfungsi sebagai sumber cahaya dan bumi berputar pada porosnya, sehingga terjadi perubahan siang dan malam. Sesuai dengan arti dari kalimat “Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang)”.

Masa Keempat
“dan setelah itu bumi Dia hamparkan” (Qs. An-Nazi’at: 30)
Daratan bumi muncul pada fase keempat ini. Berjuta tahun yang lalu, saat terjadi tubrukan antara sebuah komet dengan matahari, sebagian massa matahari terpental jauh ke luar.
Massa yang terpental ini nantinya akan berubah menjadi planet-planet. Salah satunya adalah planet bumi.
Kata “Penghamparan” dapat dijabarkan sebagai pembentukan superkontinen pangea yang ada di permukaan bumi. Karena saat itu daratan bumi belum ada. Yang ada hanya bebatuan bersuhu ratusan derajat selsius yang berpijar.
Masa Kelima
“darinya Dia pancarkan mata air dan (ditumbuhkan) tumbuhan-tumbuhannya” (QS.An-Nazi’at:31)
Dalam tahapan kelima ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada kondisi bumi. Dari semula dimana bumi tak berair berubah menjadi ada air.
Air di bumi berasumber dari komet yang menghantam bumi. Kandungan hydrogen dalam komet bereaksi ketika bertubrukan dengan unsur-unsur yang ada di bumi sehingga menghasilkan uap. Uap ini lah yang turun ke bumi sebagai hujan.
Bukti air bumi yang berasal dari komet adalah perbandingan deuterium dan hidrogen dalam air laut sama dengan yang ada di komet.
Semua kehidupan yang ada bersumber dari air. Setelah air di bumi terbentuk, tumbuh-tumbuhan pun mulai bermunculan.
Masa Keenam
“dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh” (Qs. An-Nazi’at: 32)
“(semua itu) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu” (Qs. An-Nazi’at: 33)
Pada masa terakhir ini, “gunung-gunung dipancangkan”. Artinya, gunung baru terbentuk setelah daratan tercipta, pembentukan air dan tumbuhnya tanaman.
Gunung mempunyai akar di dalam tanah yang disebut pasak. Sedangkan fungsi gunung untuk menyeimbangkan kerak bumi dan mencegah goyangnya tanah. Setelah gunung terbentuk baru hewan dan manusia diciptakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hukum pergeseran wien